RSS

Tanggung Jawab

AKIBAT peristiwa demo anarkis di dalam gedung DPRD Sumatera Utara yang memakan korban nyawa Abdul Aziz Angkat, Kapolri membebastugaskan Kapolda Sumut dan Kapolwiltabes Medan. Tindakan itu adalah langkah yang tepat untuk menanamkan rasa tanggung jawab ke alam diri para pejabat publik.
Sebenarnya akan lebih baik apabila kedua pejabat itu sendiri bersifat ksatria dan mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban dari kesalahan yang telah dilakukan. Tetapi di Indonesia etika semacam itu belum menjadi tradisi. Kalau di negara maju, pengunduran diri seorang pejabat sebagai bentuk pertanggungjawaban moral, sudah menjadi tradisi. Kalau kesalahan itu melanggar hukum, maka yang bertanggungjawab harus diadili.
Dari sedikit contoh, dapat dikemukakan nama Dirut PLN Adhi Satrya yang mengundurkan diri karena tidak menyetujui keputusan Pak Harto dalam kasus listrik swasta Paiton. Dalam suasana politik di era Orde Baru, apa yang dilakukan oleh Adhi Satrya adalah sesuatu yang luar biasa.
Sebenarnya Adhi bisa berdalih tidak harus bertanggungjawab karena memang dia tidak bisa menentang keputusan Presiden. Tetapi tampaknya dia tidak bisa menerima kebijakan itu yang tidak menguntungkan negara. Kalau dia tidak mundur, dia merasa tidak punya tanggung jawab.
Mungkin banyak pejabat publik yang merasa bahwa dia harus bertanggungjawab apabila terjadi suatu kesalahan berat di alam jajaran dibawahnya, tetapi melihat bahwa tradisi pertanggungjawaban itu tidak ada di alam masyarakat kita, maka dia tidak merasa perlu mengundurkan diri.
Gur Dur pernah menyampaikan permohonan maaf kepada para korban tindak kekerasan tahun 1965/1966, dimana sejumlah warga NU (Banser) ikut terlibat di dalamnya. Permintaan maaf itu adalah bentuk tanggung jawab moral Gus Dur sebagai salah satu tokoh utama NU. Tidak semua tokoh NU setuju dengan tindakan itu.
Saya pernah tampil di acara Kick Andy bersama seorang anggota Banser yang terlibat didalam tindak kekerasan itu. Dia menyampaikan permohonan maaf atas segala dosa yang terpaksa dilakukannya, karena kalau tidak dilakukannya, maka dia sendiri yang akan menjadi korban. Bayangkan bagaimana beratnya beban kejiwaan yang harus dipikulnya sekian lama. Saya yakin kini bebannya akan jauh berkurang.
Walaupun tidak pada posisi yang tepat untuk melakukannya, sebagai bentuk tanggung jawab moral Agus Wirahadikusumah juga pernah meminta maaf kalau TNI AD dianggap banyak melakukan kesalahan selama era Orde Baru. Belakangan KSAD melakukan tindakan serupa.
Yang paling parah adalah mereka yang tidak hanya tidak merasa bersalah dan karena itu tidak merasa perlu bertanggungjawab, tetapi juga melemparkan tanggung jawab kepada orang/pihak lain. Dia mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahan dirinya atau lembaga yang dipimpinnya. Tokoh seperti ini tidak akan pernah belajar dari kesalahan dan hanya mementingkan dirinya.
Upaya menanamkan rasa tanggung jawab harus dimulai sejak usia dini, di dalam rumah tangga dan di sekolah. Salah satunya ialah dengan cara memberikan hukuman kepada yang melanggar aturan dan memberi penghargaan kepada yang berprestasi.
Hukuman dan penghargaan itu harus bersifat mendidik. Anak-anak dididik untuk bersikap ksatria memikul tanggung jawab dan tidak mencari kambing hitam.(Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng)

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: