RSS

Umar: Pragmatisme dan Percaya Dirinya Berlebihan

17 Jun

PEROLEHAN suara partai politik Islam cenderung mengalami penurunan dalam pelaksanaan pemilu pascareformasi bergulir. Hal ini bertolak belakang dengan jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

Kepada Pelita, di Jakarta, Rabu (16/6), Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional (LSN) Umar S Bakry menilai ada dua faktor yang menyebabkan parpol Islam cenderung mengalami penurunan perolehan suara di pemilu.
Di antara kedua faktor tersebut, faktor pragmatisme yang menempel di parpol Islam dinilai menjadi persoalan utama yang harus disingkirkan apabila ingin mendapatkan simpati pemilih. Sedangkan faktor lainnya, dikarenakan parpol Islam terlalu percaya diri akan mendapatkan simpati masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim.

Saat ini mereka (parpol Islam-Red) cenderung pragmatis. Mereka tidak mengedepankan idiologi dan nilai-nilai keislaman tetapi cenderung hanya mencari kekuasaan, tegas Umar S Bakry menyikapi faktor penurunan suara parpol Islam.

Dengan kondisi tersebut, kata Umar, masyarakat pun menilai parpol Islam tidak jauh berbeda dengan parpol berbasis nasional. Masyarakat juga menilai apa untungnya lagi memilih parpol Islam, toh mereka sama saja dengan parpol yang lain, kata dia.

Selanjutnya, sikap terlalu percaya diri yang melihat mayoritas penduduk Indonesia muslim, mereka pun sangat optimis akan mendulang suara yang cukup signifikan.

Kebanyakan pimpinan partai Islam yang saya temui mengatakan, mayoritas penduduk Indonesia kan Islam, jadi kalau membuat partai Islam pasti akan menang. Kebanyakan ketua partai mengatakan seperti itu, ungkap dia.

Padahal, kata Umar, untuk mendulang suara dan sekaligus mendapatkan simpati konstituen perlu adanya kerja keras, kreatifitas, konsistensi dan sebagainya.

Menanggapi apakah partai Islam akan mengalami kebangkitan di Pemilu 2014, Umar meyakini sepanjang kedua faktor yang dianggapnya sebagai penyakit tersebut, yakni sikap pragmatis partai dan sikap percaya diri yang berlebihan tidak dihilangkan, maka kondisi partai Islam akan semakin mengalami penurunan.

Jangan pernah partai Islam bisa mengungguli partai nasionalis kalau kedua penyakit itu tidak dihilangkan. Hingga kini saya belum melihat partai Islam yang mereformasi diri, tegas dia.

Berbeda dengan Umar, Sekjen DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Irgan Chaerul Mahfiz justru membantah jika parpol Islam saat ini memiliki penyakit pragmatisme sehingga dijauhi konstituen.

Menurut dia, penurunan suara partai Islam justru dikarenakan sikap pragmatisme yang ada di masyarakat. Hal ini mengakibatkan idealisme masyarakat dalam memilih partai semakin berkurang.

Perilaku masyarakat terhadap partai cenderung pragmatis. Masyarakat akan pindah ke lain hati jika disediakan janji muluk, kata dia.

Di sisi lain, Irgan mengakui jika saat ini partai Islam kurang mampu menerjemahkan kebutuhan masyarakat, terutama dalam menyikapi persoalan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lainnya.

Masyarakat saat ini sangat menginginkan partai Islam mampu menerjemahkan bagaimana konsep partai Islam mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan lainnya. Tapi tampaknya tidak ada program konkret, tegasnya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Majelis Pakar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Asri Harahap yang menyatakan saat ini ada kecenderungan di masyarakat untuk memilih partai yang lebih bergizi dibandingkan hanya mengedepankan nilai-nilai ke-Islaman.

Di sisi lain, kata Asri, saat ini terdapat persaingan ketat antara partai Islam dan partai nasionalis dalam mengolah isu sentimen keiIslaman. Sedangkan di partai Islam sendiri gagal menyodorkan pilihan-pilihan atau program mengenai bagaimana nilai-nilai keislaman dapat mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara.
Mungkinkah Islam bangkit, Asri mengatakan bangkit atau tidaknya partai Islam di Pemilu 2014 tergantung bagaimana partai yang bersangkutan mampu menyelesaikan permasalahan yang ada.

Bangkit

Menanggapi upaya penggabungan partai Islam dalam rangka melawan kekuatan nasionalis, Umar S Bakry secara tegas menyatakan peluang menggabungkan partai Islam sangat sulit. Hal itu dikarenakan hingga kini belum ada tokoh Islam yang bisa diterima oleh seluruh partai Islam.

Faktor lainnya adalah setiap partai Islam yang ada, memiliki latar belakang atau akar sejarah yang berbeda. Kecuali muncul tokoh karismatik yang diterima semua kalangan umat Islam untuk memimpin satu partai Islam, jelasnya.

Hal senada disampaikan Asri Harahap yang menilai upaya penggabungan partai Islam di era reformasi dan demokrasi yang kini tengah berjalan merupakan hal yang mengada-ada.
Itu mengada-ada dan tidak mungkin. Karena kondisi sosial yang ada saat ini berbeda dengan masa lalu, katanya. (a yani)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Juni 2010 in Berita

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: