RSS

AL’ASY’ARI (1)

02 Agu

Oleh : ABDUL AZIZ

إن الحمد لله رب العالمين.
والصلاة والسلام على سيد الخلق أجمعين سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا.
Sungguh Allah ta’ala telah manganugerahkan kepada segenap orang beriman,dan memilih agama Nabi ibrohim sebagai agama mereka menyebutnya dengan nama agama islam. Juga Allah ta’ala memilih Nabi Muhammad dari sekian banyak Anbiya’ dan menjadikan untuk mereka sebagai Nabi Penutup. allah ta’ala menyempurnakan serta memenuhi segala kebutuhan dengan sepenuh – penuhnya dan dari Muhammad yang mulia munculah para ulama’ yang gigih membela agamanya karena taufiq dan ilham dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah ta’ala memberikan ketegasan dalam bertauhid dengan hujjah- hujjah yang nyata.

Imam abu Hasan Al ‘asy’ariy -semoga rohmat Allah melimpah kepadanya- adalah termasuk orang yang telah di beri ilham/pengetahuan yang kuat sebagai anugerahNya untuk menolong Sunnah(aqidah dan hukum agama) dengan hujjah akliyah serta dalil naqliyah( dalil yang bersumber dari alqur’an dan hadits). dan asy’ariyyah ( orang – orang yang sepakat dengan fahamnya,bukan taklid,Pen) adalah gologan yang adil dan mengambil jalan tengah antara faham Mu’tazilah dan kaum Hasywiyah. Mereka tidak menjauhi dalil alqur’an dan Hadits sebagaiman mereka orang – orang mu’tazilah serta tidak menjauhi Akal sebagaiman kaum Hasywiyyah ( yang mengatakan bahwa allah berkalam dengan huruf dan suara,pen), Asy’ariyyah ini telah mewarisi kebaikan dari pakar – pakar ulama sebelumnya. Memereka telah membungkam segala kelompok yang sesat dan menyesatkan dan menjaga terhadap segala sesuatu yang menjadi prinsip Nabi solallahu alaihi wa sallam. Ilmu mereka telah menyabar di segala penjuru dunia.

NAMA DAN KELAHIRANNYA

Berkata Imam abu Bakar Al Baihaqi ” Nama beliau adalah Abu hasan Ali Bin Ismail Bin Abiy Basyar Ishaq Bin Salam Bin Ismail Bin Abdullah bin Musa bin Bilal (Amir kota Bashrah) bin abi bardah Bin Abu Musa Abdullah bin qois Al’asy’ari Al Yamani Al Basry Sahabat Rosulullah sollalhu alaihi wa sallam.

Di lahirkan pada tahun 260 Hijriyah. Ada yang mengatakan tahun 270 Hiriyyah. Wafat pada tahun 324 H di kota Baghdad. Kakeknya, ya’ni sahabat Abu musa Al- asy’ary adalah salah seorang juru Fatwa yang fatwanya di ikuti para sahabat Nabi. Seorang yang paling bagus suaranya dalam membaca ayat- ayat Alqur’an. Nasabnya sampai kepada Jumahir bin Asy’ar. Asy’ar adalah salah satu anak turun dari Saba’ yang banyak bertempat tinggal di negara Yaman. Abu Musa Al’asy’ariy (sahabat) hijrah bersama dengan kedua saudaranya dengan beberapa kaumnya yang kurang lebih berjumlah lima puluh orang sampai di negeri habasyah, Mereka singgah di negeri itu bermukim bersama Ja’far bin Abi tholib rodiyyallahu anhu sampai mereka datang bertemu dengan Rosulullah sallallahu alaihi wasallam ketika terjadi fathu khaibar.

Abu Musa di karunia beberapa keturunan banyak dan menyebar di mana- mana. nama – nama mereka tercatat dalam beberapa kitab sejarah secara berantai hingga sampai kepada Guru besar umat islam Syeih Abu Hasan Al ‘asy’ariy Rodiyallahu ‘anhu.

Pujian Ulama pada Imam Asy’riy dan Madzhabnya

Berkata imam Al qusayri (tokoh sufiy)”sesungguhnya para pakar ilmu hadis sepakat bahwa imam Asy’arri adlah pemimpin mereka. Madzhabnya adalah madzhab mereka. Dia mengajarkan ilmu ushul sesuai dengan toriqoh Ahlussunnah Wal jama’ah.
Imam baihaqi berkata ; sesungguhnya Imam Asy’ariy tidaklah membuat pemahaman agama yang baru. Dan bukan termasuk ahli bid’ah. Dia mengambil beberapa perkataan sahavbat dan tabiin, serta imam –imam setelahnya dalam masalah ushulddin kemudian menambahkan beberapa keterangan dan syarah. Dan bahwasanya apapun yang mereka katakan(-para imam sebelumnya) dalam masalah ushul serta yang datang dari syari’at nabi adalah benar adanya di tinjau dari segi hukum akal tidak sebagaimana yang di sangka ahlul ahwa’ (seorang yang pemahaman agamanya sekehendak nafsunya,pen). Dengan begitu usaha imam Asy’ari dalam menambahi keterangan dan syarah adalah penguat bagi tertolongnya Ahlussunnah wal jama’ah yakni para imam –imam madzhab besar sebagaimana Abu Hanifah, Sufyan Atstauriy dari kufah, Al’awza’iy dan lainnya dari Syam, Malik Dan Asysyafi’I dari kota Mekkah dan Madinah, Ahmad bin Hanbal dan lainnya dari para ahl hadits sebagaimana Imam Bukhori dan Muslim ,dua Imam besar dalam ilmu hadits dan para pengahafal hadits ( Huffadz). Mereka adalah sumber dari hukum syara’ Mudah- mudahan Rahmat Allah selalu melimpah kepada mereka semua.

Imam Tajuddin Assubky berkata : Andaikan saya menghendaki menceritakan seluruh manaqib (biografi) Syeih Abu Hasan Al’asy’ari maka tak cukup di tulis di atas beberapa kertas dan penapun tak sanggup menulisnya. Namun barang siapa menghendaki untuk mengetahui darajat dan pangkatnya dan hatinya di penuhi rasa cinta kepadanya maka wajib baginya untuk membaca kitab “Tabyin Kadzbil Muftari Fima Nusiba Lilimam Abu Hasan Al’as’ariy” yang di susun oleh AlHafidz Ibny Askir Addimsyiky. Itu adalah salah sebuah kitab yang paling agung dan sangat besar faidah dan kebaikannya. Imam ibnu abi al hujjaj al andalusiy berkata “ andai saja tak ada bagi imam Ibnu askir pertolongan terhadap Imam Asy’ariy kecuali kitab ini maka cukuplah (kitab itu telah mencukupi)”. Para guru kita telah menganjurkan agar membaca dan mengkaji isi kitab tersebut.

Sebagian manusia mengira bahwa Imam asy’ary bermadzhab maliky padahal itu sama sekali tidak benar. Sesungguhnya dia bermadzhab Syafi’I belajar di hadapan imam Au Ishaq Al maruzy demikian itu keterngan dari Al ustadz abu bakar bin fawrak dalam kitab “ Thobaqotul Mutakallimin”, Ustadz Abu ishaq Al isfiroini yang di nukil oleh Syeih Abu Muhamad Al-Juwainy dalam “ Syarhurrisalah”. Adapun guru Asy’irah dari madzhab Maliki adalah Al-imam Al Qodi Abu bakar Al-baqilany.

JAuh dari bid’ah dan kebenaran aqidahnya

Imam abu hasan Al Asy’ari meneliti beberapa kitab kaum Mu’tazilah dan jahmiyah maka dia menemukan Bahwa mereka adalah ahli ta’til (menafikan sifat Allah yang wajib) dan batil Mereka mengatakan “ Na’udzubillah” tidak ada sifat qudrat, ilmu, sama, bashor, hayat, baqo, irodat dan lain sebagainya bagi Alllah ta’ala. Sedang kaum hasywiyah mengatakan Allah bersifat Ilmu,qudrat, sama’,basar sama dengan yang lainNya. Maka imam Asy’ary mengambil jalan tengah dan berkata Allah ta’ala bersifat ilmu, kuasa,sama’ dan basher namun tidak ada kesamaan sama sekali.

Adapun Jahm bin Sofwn (tokoh madzhab Jabariyah) mengatakan bahwa tdak ada kuasa dan juga ihtiyar pada manusia .

Sedangkan jabariyah mengatakan bahwa manusia punya kuasa dan dengan kekuasaan itulah manusiA menciptakan sesuatu dengan sendirinya.

Maka Imam Asy’ari Mengatakan manusia tak mampu menciptakan sesuatu apapun namun ada kasb dan ihtiyar baginya.

Ketika Kaum hasywiyah musyabbihah mengatakan bahwa tuhan kelak di lihat dengan beberapa batasan melihat (sebagaimana arah dan berhadapan,pen). Sedangkan Mu’tazilah, jahmiyah, najjaariyyah mengatakan Tuhan mutlak tak dapat di lihat. Maka Imam Asy’ari mengambil jalan tengah “Allah ta’ala terlihat tanpa ada batasan tertentu tidak sebagaimana Musyabbihah dan mu’tazilah.

Ketika kaum najjariyah mengatakan bahwa tuhan di segala tempat (di mana-mana) tanpa merasuk pada suatu tempat dan arah. Sedang kaum hasywiyyah mujassimah (wahabiyaah sekarang,pen) mengatakan sesungguhnya Dia di ats arasynya dan arasy adalah tempatnya dimana dia duduk di sana. Maka Imam Asy’ari Rodiyaallahu Anhu menegaskan bahwa Tidak ada tempat bagi allah Ta’ala (mustahil jirmiyah dan Aradiyah,pen) Adapaun Dia menciptakan Arasy tidak karena membutuhkannya dan setelah terciptanya arsypun tidak terkait dengan ciptaannya tersebut

Ketika kaum murjiah mengatakan “naudzubillah”. Bahwa seseorang ketika sudah mencapai tauhid yang bersih,maka baginya kemurtadan serta kekufuran tidak mempengaruh keimanannya. Melakukan perbuatan dosa besarpun tidak tertulis sebagai maksiat. Sedang kaum mu’tazilah mengatakan Orang yang menjalankan dosa besar sdang diaa masih beriman maka tetap baginya masuk dalam neraka selama-lamanya.

Maka imam Asy’ari mengatakan bahwa “orang Mukmin yang menauhidkan Allah dengan sebenarnya yang Berbuat fasiq maka nasib terserah Allah Subhanahu wa ta’ala. Artinya kaluAllah menghendaki, bias saja dia mendapat ampunan atau di siksa lebih dulu untuk kemudian di masukkan kedalam surga.

Kesungguhan dalam beribadah dan sifat Zuhudnya

Imam Abu hasan Al’asy’ari sangatlah kuat pemahamanya lagi cerdas. Imunya bagaikan lautan yang amat dalam. Kurang lebih dalam waktu dua puluh tahun beliau melakukan sholat subuh dengan Wudu’ isya’ (artinya tidak tidur di waktu malam,pen) dan tidak pernah menceritakan sedikitpun tentang kesungguahanya da;am beribadah itu kepada siapapun. Beliau sangat malu ketika menghadapi urusan dunia dan sangat giat dalam uruSan akhirat.

Bersambung….

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 2 Agustus 2010 in Kisah Teladan

 

One response to “AL’ASY’ARI (1)

  1. Hanisya Collections

    2 Agustus 2010 at 00:40

    artikel yang sangat menarik….

    tampilkan artikel agar profitable di http://www.imcrew.com/?r=359671

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: