RSS

Dalog Tentang Tahlilan, (Catatan Ringan)

17 Agu

oleh Muhammad Idrus Ramli

Tahlilan terambil dari kosa kata tahlil, yangdalam bahasa Arab diartikan dengan mengucapkan kalimat la ilaha illallah.Sedangkan tahlilan, merupakan sebuah bacaan yang komposisinya terdiri daribeberapa ayat al-Qur’an, shalawat, tahlil, tasbih dan tahmid, yang pahalanyadihadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun sudah meninggal, denganprosesi bacaan yang lebih sering dilakukan secara kolektif (berjamaah),terutama dalam hari-hari tertentu setelah kematian seorang Muslim. Dikatakantahlilan, karena porsi kalimat la ilaha illallah dibaca lebih banyakdari pada bacaan-bacaan yang lain.

Terdapat sekian banyak persoalan atau gugatan terhadaptradisi tahlilan yang datangnya dari kaum Wahhabi. Dalam sebuah dialog di BesukKraksaan Probolinggo, sekitar tahun 2009, ada seseorang bertanya: “Siapapenyusun tahlilan dan sejak kapan tradisi tahlilan berkembang di dunia Islam?”

Pada waktu itu saya menjawab, “Bahwa sepertinya sampaisaat ini belum pernah dibicarakan dan diketahui mengenai siapa penyusun bacaantahlilan dengan komposisinya yang khas itu. Mengingat, dari sekian banyak bukutahlilan yang terbit, tidak pernah mencantumkan nama penyusunnya.”

Akan tetapi berkaitan dengan tradisi tahlilan, itu bukantradisi Indonesia atau Jawa. Kalau kita menyimak fatwa Syaikh Ibn Taimiyahal-Harrani, tradisi tahlilan telah berkembang sejak sebelum abad ketujuhHijriah. Dalam kitab Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiyahdisebutkan:

“Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah ditanya, tentangseseorang yang memprotes ahli dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka,”Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah”.Mereka memulai dan menutup dzikirnya dengan al-Qur’an, lalu mendoakan kaumMuslimin yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkanantara tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illaabillaah) dan shalawat kepada Nabi saw.?” Lalu Ibn Taimiyah menjawab: “Berjamaah dalam berdzikir,mendengarkan al-Qur’an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk qurbah danibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al-Bukhari, Nabi sawbersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki banyak Malaikat yang selalu bepergian dimuka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepadaAllah, maka mereka memanggil, “Silahkan sampaikan hajat kalian”, lanjutanhadits tersebut terdapat redaksi, “Kami menemukan mereka bertasbih danbertahmid kepada-Mu”… Adapun memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid)seperti shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan soreserta pada sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan tradisiRasulullah saw dan hamba-hamba Allah yang saleh, zaman dulu dansekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 22, hal. 520).

Dalam sebuah diskusi di Denpasar Bali, ada seorangWahhabi berkata: “Bahwa tradisi selamatan tujuh hari itu mengadopsi dariorang-orang Hindu. Sudah jelas kita tidak boleh meniru-niru orang Hindu.”

Pada waktu itu saya jawab, bahwa ada perbedaan antaratradisi Hindu dengan Tahlilan. Dalam tradisi Hindu, selama tujuh hari darikematian, biasanya diadakan ritual selamatan dengan hidangan makanan yangdiberikan kepada para pengunjung, disertai dengan acara sabung ayam, permainanjudi, minuman keras dan kemungkaran lainnya.

Sedangkan dalam tahlilan, tradisi kemungkaran seperti itujelas tidak ada. Dalam tradisi Tahlilan, diisi dengan bacaan al-Qur’an, dzikirbersama kepada Allah SWT serta selamatan (sedekah) yang pahalanya dihadiahkankepada mayit. Jadi, antara kedua tradisi tersebut jelas berbeda.

Sedangkan berkaitan dengan acara tujuh hari yang jugamenjadi tradisi Hindu, dalam Islam sendiri, tradisi selamatan tujuh hari telahada sejak generasi sahabat Nabi saw.Al-Imam Sufyan, seorang ulama salaf berkata:

“Dari Sufyan, bahwaImamThawus berkata, “Sesungguhnya orang yang meninggal akan diuji di dalam kuburselama tujuh hari, oleh karena itu mereka (kaum salaf) menganjurkan bersedekahmakanan untuk keluarga yang meninggal selama tujuh hari tersebut.” (HR. al-ImamAhmad dalam al-Zuhd, al-Hafizh Abu Nu’aim, dalam Hilyah al-Auliya juz 4, hal.11 dan al-Hafizh Ibn Hajar dalam al-Mathalib al-‘Aliyah, juz 5, hal. 330).

Riwayat di atas menjelaskan bahwa tradisi selamatanselama tujuh hari telah berjalan sejak generasi sahabat Nabi saw. Sudah barang tentu, para sahabatdan generasi salaf tidak mengadopsinya dari orang Hindu. Karena orang-orangHindu tidak ada di daerah Arab.

Dan seandainya tradisi selamatan tujuh hari tersebut diadopsidari tradisi Hindu, maka hukumnya jelas tidak haram, bahkan bagus untukdilaksanakan, mengingat acara dalam kedua tradisi tersebut sangat berbeda.Dalam selamatan tujuh hari, kaum Muslimin berdzikir kepada Allah. Sedangkanorang Hindu melakukan kemungkaran. Dalam hadits shahih Rasulullah saw bersabda:

”Dari Ibn Mas’ud ra, Rasulullah sa bersabda: “Orangyang berdzikir kepada Allah di antara kaum yang lalai kepada Allah, sederajatdengan orang yang sabar di antara kaum yang melarikan diri dari medan peperangan.”(HR. al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan al-Mu’jam al-Ausath. Al-Hafizhal-Suyuthi menilai hadits tersebut shahih dalam al-Jami’ al-Shaghir).

Dalam acara tahlilan selamatujuh hari kematian, kaum Muslimin berdzikir kepada Allah, ketika padahari-hari tersebut orang Hindu melakukan sekian banyak kemungkaran. Betapaindah dan mulianya tradisi tahlilan itu.

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 17 Agustus 2010 in Kolom

 

6 responses to “Dalog Tentang Tahlilan, (Catatan Ringan)

  1. Mustofa

    18 Agustus 2010 at 15:17

    Khoir…

     
  2. Busro

    22 Agustus 2010 at 08:29

    Knapa dalil / dasar tahlilkan orang mati dan tuju harinya k tiap daera dalilnya berbeda2

    RED. Saya kira kok sama, contohnya ?

     
  3. benzena

    23 Agustus 2010 at 20:41

    berbeda dalil dapat dimungkinkan karena berbeda guru atau ilmu yg di dapatkan…begitu kang/mba..jadi menyebabkan dasar pendapatnya juga sesuai dg pengetahuannya..mgkin ada yg bisa menanggapi secara gamblang…monggo…

     
  4. yudhaahmad

    28 Agustus 2010 at 12:58

    islam jaman sekarang banyak yang memojokan dan mengatakan bidah
    TAHLIL
    QUNUT
    TALQIN
    7HARI
    gimana pandangan anda?
    saya pecinta tahlil qunut dsb yang menurut mrk bidah

     
  5. abubakar

    6 Oktober 2011 at 06:12

    maaf ni mau ikut2an.tapi knapa ya bgitu nabi sallallahu alaihi wasallam wafat para sahabat tidak tahlilan malah mereka(Abu bakar) menirim pasukan perang ke perbatasan persia? (tarikh at thobari)

     
  6. X

    3 November 2011 at 23:38

    Ya tuh betul jg, kalo tahlilan memang berasal dari Islam seharusnya Rasulullah dan para sahabatnya sudah melaksanakan. Tp kok ga ada ceritanya Rasulullah mengadakan tahlilan untuk istrinya, anaknya, para sahabatnya yg mati sahid dst? Apa Rasulullah lupa?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: