RSS

HAID DAN MASALAHNYA

08 Sep

Oleh : Siti Roudlotun Nikmah, M.Pd.I

A. Haid
1. Pengertian Haid
Yang dinamakan haid adalah darah yang keluar dari kelamin (farji) perempuan yang sudah berumur 9 tahun atau kurang sedikit menurut hitungan tahun hijriyah.
2. Hukum mempelajari Haid
Belajar tentang haid dan hal-hal yang berhubungan dengan haid bagi orang perempuan adalah wajib ‘ain.
3. Dasar-dasar
Dasarnya adalah surat Al-Baqarah ayat 222 dan Sabda Rasulullah SAW yang artinya : Haid adalah sesuatu yang telah ditakdirkan Allah kepada para wanita (HR. Bukhari)
4. Batas Haid
Paling sedikit umur perempuan mengeluarkan darah haid adalah 9 tahun hijriyah atau kurang sedikit (dibawah 16 hari).
5. Lama Haid
Darah haid keluar minimal 24 jam (sehari semalam). Keluarnya terus menerus atau terputus-putus dalam waktu 15 hari/malam. Paling lama wanita mengeluarkan darah haid 15 hari / malam. Tetapi, umumnya wanita mengeluarkan darah haid selama 6 atau 7 hari / malam.
Permasalahan :
a Masalah darah yang lama keluarnya tidak jelas, apakah 24 jam atau kurang 24 jam, para ulama berselisih pendapat. Ibnu Hajar mengatakan darah itu bukan darah haid. Sedangkan menurut Imam Ramli darah haid, walaupun terpisah-pisah dalam waktu 15 hari / malam serta warna darahnya lebih dari satu macam.
b Jika ada perempuan mengeluarkan darah terputus-putus (kadang keluar kadang tidak), maka seluruh waktu (waktu keluar darah dan waktu tidak keluar darah) dihukumi haid. Umpamanya ada wanita mengeluarkan darah haid selama 3 hari, lalu berhenti selama 4 hari kemudian keluar lagi 1 hari dan berhenti lagi selama 5 hari kemudian keluar lagi selama 1 hari, maka seluruh hari (14 hari) dihukumi haid.
c Jika mengeluarkan darah haid terputus-putus, maka aturan ibadahnya ialah :
– Jika waktu mengeluarkan darah belum mencapai 24 jam, maka tidak diwajibkan mandi.
– Jika waktunya sudah mencapai 24 jam, maka bila suatu saat darahnya berhenti, diwajibkan mandi, shalat dll.
– Jika darahnya (ternyata) keluar lagi, maka shalat dan ibadah lain yang dikerjakan setelah mandi tadi tidak sah. Oleh karenanya diwajibkan mengqadla’ puasa yang dilakukan pada saat darahnya berhenti tadi. Sedangkan shalatnya tidak wajib diqadla’. Adapun perbuatan ibadah pada saat berhenti tadi tidak dihukumi berdosa.
– Kemudian jika suatu saat darahnya berhenti lagi maka diwajibkan mengerjakan hal-hal seperti tadi (mandi dll) dan seterusnya selama masih belum lebih 15 hari / malam.
d Orang hamil yang belum terasa akan melahirkan, bila mengeluarkan darah dihukumi darah haid.
e Wanita yang mengeluarkan darah, langsung dikatakan haid tanpa menunggu 24 jam. Dan diharamkan menjalankan shalat dll. Kemudian, apabila ternyata darahnya berhenti tidak sampai masa 24 jam, dia diwajibkan mengqadla’ kewajiban (shalat dll) yang ditinggalkan ketika mengeluarkan darah (haid).
6. Batas Suci dan Haid.
Paling cepat waktu suci yang memisah antara haid dengan haid berikutnya adalah 15 hari/malam. Sedangkan umumnya 23 / 24 hari/malam. Adapaun paling lama masa suci tidak terbatas. (Siti Fathimah binti Rasulullah SAW tidak pernah mengeluarkan darah haid)
Permasalahan.
a. Bila ada Wanita mengeluarkan darah selama 7 hari, kemudian berhenti selama 13 hari, kemudian keluar lagi selama 6 hari, maka masa mengeluarkan darah 7 hari dihukumi haid. Dan 13 hari masa berhenti ditambah 2 hari permulaan mengeluarkan darah selama 6 hari dihukumi suci, sedangkan 4 harinya sisanya dihukumi haid.
b. Haid atau suci yang diusahakan dengan obat-obatan diperbolehkan.
B. Nifas
1. Pengertian Nifas
Yang dinamakan nifas ialah darah yang keluar dari farji (kemaluan) wanita setelah melahirkan. Sedangkan darah yang keluar pada saat terasa akan melahirkan dan yang keluar bersama dengan bayi hukumnya ialah: jika bersambung dengan haid sebelumnya maka dihukumi darah haid dan jika tidak bersambung dihukumi darah istihadlah (darah penyakit).
Contoh yang bersambung dengan haid sebelumnya ialah orang hamil belum merasa akan melahirkan mengeluarkan darah selama 24 jam, kemudian merasa akan melahirkan dan darahnya tetap keluar, maka darah yang dikeluarkan (baik saat belum merasa akan melahirkan atau ketika merasa akan melahirkan) dinamakan darah haid.
Contoh yang tidak bersambung, ialah orang hamil belum merasa akan melahirkan mengeluarkan darah selama 23 jam kemudian merasa akan melahirkan dan darah tetap keluar, maka darah yang keluar (baik saat belum merasa akan melahirkan atau setelah merasa akan melahirkan) dinamakan darah istihadlah / penyakit
2. Lama Nifas
Minimal darah nifas satu tetes (walaupun darahnya tidak sampai menetes). Umumnya wanita mengeluarkan darah nifas selama 40 hari/malam. Sedangkan paling lama masa nifas yaitu 60 hari/malam. Semuanya dihitung setelah melahirkan.
Contoh : Seandainya ada wanita melahirkan pada tanggal 1, kemudian mengeluarkan darah tanggal 11, maka menghitung nifasnya mulai tanggal 1, tidak tanggal 11. Dan waktu antara kelahiran dan mengeluarkan darah (tanggal 11) dihukumi suci, artinya diwajibkan menjalankan shalat dll.
Permasalahan.
a. Antara kelahiran bayi dan keluarnya darah (yang dihukumi nifas) paling lama 15 hari/malam. Bila keluarnya darah setelah masa 15 hari/malam dari kelahiran maka bukan darah nifas, tetapi darah haid.
b. Jika melahirkan bayi kembar, maka yang dihukumi nifas adalah setelah melahirkan bayi yang terakhir.
c. Jika melahirkan bayi, kemudian mengeluarkan darah terputus-putus maka hukumnya adalah:
1) Jika darah yang dikeluarkan belum melewati masa 60 hari dari kelahiran dan berhentinya tidak sampai 15 hari/malam berturut-turut, maka keseluruhan waktu mengeluarkan darah dan waktu berhentinya darah dihukumi nifas. YANG perlu diingat, setiap kali darahnya berhenti diwajibkan mandi dll.
2) Jika darah yang sebelum berhenti masih dalam masa 60 hari dari kelahiran dan darah yang keluar setelah berhenti sudah diluar masa 60 hari/malam, maka masa sebelum berhenti dihukumi nifas dan darah yang keluar setelah berhenti dihukumi haid. Sedangkan waktu berhenti dihukumi suci, walaupun hanya sebentar dan kurang dari 15 hari/malam.
3) Jika berhentinya sampai 15 hari/malam atau lebih, maka darah yang sebelum berhenti dihukumi nifas dan darah yang setelah berhenti dihukumi haid meskipun masih dalam lingkup 60 hari/malam dari kelahiran.
d . Suci yang memisah antara nifas dengan nifas dan suci yang memisah antara haid dengan nifas (baik lebih dulu haidnya atau lebih dulu nifasnya) tidak disyaratkan mencapai 15 hari/malam. Bahkan jika lebih dulu haidnya tidak disyaratkan ada suci yang memisah antara haid dan nifas.
3. Contoh-contoh
Seorang ibu yang baru melahirkan melakukan hubungan suami istri hingga mengakibatkan kehamilan lagi, kemudian pada waktu nifasnya genap 60 hari darahnya berhenti 1 hari. Kemudian dia melahirkan lagi dari kehamilan kedua dan mengeluarkan darah nifas lagi, maka berhenti selama 1 hari tersebut dihukumi suci yang memisah antara nifas dengan nifas.
Contoh suci yang memisahkan antara nifas dengan haid yang haidnya keluar lebih dulu.
a. Wanita hamil mengeluarkan darah selama 5 hari (haid) kemudian berhenti selama 4 hari, lalu melahirkan dan keluar darah nifas. Maka masa berhenti selama 4 hari tersebut dihukumi suci yang memisah antara haid dengan nifas.
b. Wanita hamil mengeluarkan darah selama 7 hari, lalu dia merasa akan melahirkan dan darahnya tetap keluar sampai setelah lahirnya bayi. Maka darah yang keluar mulai pertama (7 hari) sampai keluarnya bayi dihukumi haid dan darah yang keluar setelahnya dihukumi nifas. Jadi, dalam contoh ini tidak ada waktu suci yang memisah antara haid dengan nifas.
Contoh suci yang memisah antara haid dengan nifas yang nifasnya keluar lebih dulu :
Seorang ibu yang nifasnya sudah genap 60 hari/malam berhenti selama 1 hari, kemudian mengeluarkan darah lagi 10 hari (haid), maka berhenti sehari itu dinamakan suci yang memisah antara nifas dan haid.
C. Istihadlah
1. Pengertian Istihadlah
Yang disebut istihadlah ialah darah yang keluar dari farji (kemaluan) perempuan selain darah haid dan nifas.
Contoh-contoh :
a. Darah yang keluar dibawah batas minimal perempuan mulai haid. Umpanya keluar ketika berumur 8 tahun
b. Darah yang keluar sebelum mencapai batas minimal suci dari haid (15 hari/malam), tetapi bila ditambah dengan haid sebelumnya sudah mencapai 15 hari/malam. Contoh : Seorang perempuan mengeluarkan darah selama 7 hari, kemudian suci. Baru suci 8 hari keluar darah lagi selama 7 hari atau kurang, maka darah yang kedua (setelah berhenti) semua dihukumi istihadlah. Tetapi bila dalam contoh diatas darah yang kedua (setelah berhenti) sampai 8 hari atau lebih, maka darah yang 7 hari setelah berhenti dihukumi istihadlah (untuk menyempurnakan minimal suci) dan selebihnya dihukumi haid bila sudah mencapai minimal haid 24 jam.
c. Sedangkan istihadlah yang berhubungan dengan haid (bukan sehabis melahirkan) yang terdapat pada wanita yang sudah mencapai umur minimal mengeluarkan darah haid serta sucinya sudah mencapai batas minimal (15 hari), maka untuk menentukan hukum-hukumnya harus diperinci lebih dahulu tentang keadaan darah yang dikeluarkan dan keadaan wanita yang mengeluarkan darah.
1) Tentang keadaan darah : 1. Warnanya hitam, merah kekuning-kuningan, kuning atau keruh, 2.Berbau busuk atau tidak. 3.Cair atau kental.
2) Tentang keadaan wanita yang mengeluarkan darah: Wanita itu sudah pernah haid secara normal (tidak istihadlah) atau belum. Jika sudah pernah haid secara normal, maka diperinci lagi sebagai berikut: Apakah dia ingat berapa lama kebiasaan haid dan berapa lama kebiasaan suci, atau dia tidak ingat. Masing-masing perincian tersebut mempunyai hukum sendiri-sendiri. (keterangan lebih panjang di buku Darah Wanita). Begitu juga istihadlah yang berhubungan dengan nifas, yakni wanita sehabis melahirkan mengeluarkan darah lebih dari 60 hari, maka cara melihat hukumnya diperinci terlebih dahulu tentang keadaan darah yang dikeluarkan dan keadaan wanita yang mengeluarkan darah sebagaimana di atas.
D. Cara Shalat Wanita Istihadlah
Wanita yang istihadlah dan orang yang terkena penyakit beser kencing tetap diwajibkan mengerjakan shalat dan lain-lain. Sebab wanita yang istihadlah dihukumi suci. (tidak haid).
Sebelum mengambil air wudlu’ orang yang istihadlah / beser terlebih harus mensucikan kemaluannya kemudian menyumbatnya dengan kapas atau kain (seperti menyumbat botol) kemudian membalutnya. Kemudian melakukan wudlu’ langsung mengerjakan shalat atau menunggu jama’ah. Tidak diperbolehkan melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan shalat, seperti makan, minum dll. Bila ini dilanggar, maka diwajibkan mengulangi pekerjaan dari awal, yaitu mulai mensucikan kemaluannya dst.
Apabila darahnya tetap keluar karena disebabkan kurang kuatnya penyumbat, maka bersucinya batal dan pembalutnya / penyumbatnya harus dilepas dan bersuci lagi mulai dari awal dan dengan penyumbat yang baru/suci. Tetapi bagi wanita yang merasa sakit menggunakan penyumbat dan wanita yang sedang berpuasa meskipun puasa sunnat tidak diwajibkan memakai sumbat, bahkan memakai sumbat bisa membatalkan puasa.
Kewajiban mencuci, memakai sumbat dan berwudlu’ harus dilakukan setiap akan menjalankan shalat fardlu dan setelah masuk waktu shalat.
Permasalahan
1. Bagi orang yang selalu hadats (karena istihadlah atau beser), jika melakukan shalat dengan duduk hadatsnya tidak keluar, maka diwajibkan shalat dengan duduk dan kalau sudah sembuh tidak wajib mengqadla’nya.
2. Bagi orang yang tetap berhadats (karena istihadlah atau beser) yang mempunyai kebiasaan mampet pada akhir waktu shalat yang cukup digunakan untuk bersuci dan shalat, maka diwajibkan mengakhirkan shalatnya agar bisa bersuci dengan sempurna.
3. Orang beser sah menjadi imam shalat.
4. Dan wanita istihadloh yang yakin bahwa darah yang dikeluarkan itu darah istihadloh (bukan wanita mutakhayyiroh) dia juga sah menjadi imam shalat. Sedangkan wanita istihadloh yang bingung menentukan darahnya, apakah darah yang keluar itu tepat darah haid atau istihadloh (mutahayyiroh) maka tidak boleh menjadi imam, walaupun makmumnya sama-sama mutahayyiroh.
E. SESUATU YANG HARAM BAGI WANITA YANG HAID/NIFAS
1.Salat, 2.Thawaf, 3.Menyentuh Al-Quran, 4. Membaca Al-Quran, 5. Membawa Al-Quran, 6. Diam di dalam masjid, 7. Berpuasa, 8. Thalaq/cerai, 9. Lewat dalam masjid jika khawatir akan tetesnya darah, 10. Bersentuhan kulit dengan suaminya pada anggota tubuh antara lutut dan pusar walaupun tidak syahwat, juga bersetubuh walaupun dzakarnya dibungkus/pakai kondom, 11. Berwudlu atau mandi niat menghilangkan hadas.
Peringatan!
1. Jika darah haid atau nifas sudah berhenti maka 11 perkara diatas tetap diharamkan selama dia belum mandi, kecuali berpuasa dan thalaq.
2. Puasa yang ditinggalkan karena haid atau nifas, apabila sudah suci wajib mengqodlo’ sedangkan shalat yang ditinggalkan waktu haid atau nifas haram diqodlo’.
3. Haid dan nifas dapat dinyatakan berhenti jika kemaluannya betul-betul sudah bersih. Untuk mengetahui haid atau nifas sudah berhenti ialah andaikan kapas putih dimasukkan kedalam farji sudah tidak ada basahnya darah walaupun pada bagian farji yang tidak wajib di basuh waktu bersuci.

F. SALAT YANG WAJIB DI QODLO’
Hal-hal yang menghilangkan wajibnya menjalankan sholat yang menurut bahasa Arab atau istilah Ulama disebut mani’ atau mawani’ ada 7 macam :
1. Haid
2. Nifas
3. Gila
4. Ayan /epilepsy
5. Mabuk yang tidak disengaja
Lima perkara ini setelah hilang bisa terjadi/kembali lagi. Sedangkan dua hal berikut ini tidak bisa kembali/terjadi lagi, yaitu sifat anak-anak (belum baligh) dan kufur asli (bukan murtad).
Jika salah satu dari lima perkara diatas (mani’) terjadi/datang setelah masuk waktu shalat dengan jarak waktu hanya cukup untuk mengerjakan shalat waktu itu bagi orang yang bersucinya dapat dikerjakan sebelum masuk waktu shalat (orang yang tidak selalu berhadats dan tidak bertayamum), dan mereka belum mengerjakan shalat. Maka apabila 5 mani’ itu sudah hilang mereka hanya diwajibkan mengqodlo’ shalat waktu datangnya mani’. Dia tidak wajib mengqodlo’ shalat waktu sebelum atau sesudahnya, meskipun shalatnya dapat dijama’.
MASALAH
Dalam masalah ja’al mani’ (mulai datangnya mani’) banyak orang yang salah faham, sehingga diantara mereka ada yang mewajibkan mengqodlo’ shalat waktu sebelum datangnya mani’ dan ada dianatara mereka yang mewajibkan mengqodlo’ shalat waktu sesudah datangnya mani’.
Kedua pendapat tersebut tidak tepat, berdasarkan kitab-kitab fiqh yang sebagian besar dijelaskan dalam buku Haid dan Masalah-maslah Wanita Muslim.
Sebenarnya masalah ja’al mani’ yang wajib mengqodlo’ shalatnya dapat menjalar, itu hanya bagi orang yang mempunyai dua mani’ dengan dua syarat, yaitu :
1. Mani’ yang pertama menghabiskan waktu shalat yang pertama (dhuhur atau maghrib).
2. Mani’ yang kedua mulai datang setelah suci dari mani’ yang pertama selama waktu yang sudah cukup untuk mengerjakan dua kali shalat (shalat waktu datangnya mani’ yang kedua dan shalat waktu sebelumnya).
CONTOH :
a. Ada orang kena penyakit gila mulai pagi sampai pukul 16.00 baru sembuh, kemudian jam 16.30 belum sempat mengerjakan shalat Ashar dia gila lagi. Maka ketika dia sudah sembuh diwajibkan mengqodlo’ shalat Ashar dan Dhuhur.
b. Ada orang terserang penyakit ayan / epilepsy mulai sadar jam 20.00, kemudian jam 21.00 belum sempat mengerjakan shalat Isya’ dia mengeluarkan darah haid. Maka setelah dia suci wajib mengqodlo’ shalat Isya’ dan Maghribnya.
Bagi seseorang yang hilangnya mani’ dalam waktu Dhuhur, Maghrib atau Shubuh (waktu shalat yang tidak dapat dijama’ dengan shalat sebelumnya), maka dia diwajibkan mengerjakan shalat waktu hilangnya mani’ saja.
Jika setelah hilangnya mani’ waktu shalat masih cukup untuk bersuci dan mengerjakan shalat satu raka’at, maka shalatnya wajib dikerjakan dengan ada’ (tidak qodlo’). Dan jika tidak cukup, maka shalatnya dikerjakan dengan qodlo’.
Sedangkan bagi orang yang hilangnya mani’ dalam waktu Ashar atau Isya’ (waktu shalat yang dapat dijama’ dengan shalat sebelumnya) walaupun tinggal waktu yang cukup untuk mengucapkan takbiratul ihram (ucapan Allahu Akbar), maka dia wajib mengerjakan shalat waktu itu.
Jika setelah hilangnya mani’ waktu shalat masih cukup untuk bersuci dan mengerjakan shalat satu raka’at, maka shalatnya wajib dikerjakan dengan ada’. Dan jika sudah tidak cukup, maka shalatnya dikerjakan dengan qodlo’. Dalam hal ini (hilangnya mani’ dalam waktu Ashar atau Isya’) dia diwajibkan mengqodlo’ shalat waktu sebelumnya.
Contoh :
1. Berhenti haid jam 13.00, maka dia hanya diwajibkan shalat dhuhur dengan ada’.
2. Berhenti haid pada waktu Dhuhur tinggal setengah menit, maka diwajibkan mengerjakan shalat Dhuhur dengan qodlo’.
3. Berhenti haid jam 16.00, maka dia diwajibkan shalat Ashar dengan ada’ dan mengqodlo’ shalat Dhuhur.
4. Berhenti haid disaat shalat Ashar tinggal setengah menit, maka dia diwajibkan shalat Ashar dan Dhuhur dengan qodlo’ semuanya.

BEBERAPA MASALAH :

1. Bagaimana hukum Shalat dengan menggunakan “rukuh” yang tipis, sehingga warna aurat (kulit atau rambut) kelihatan dan berapa ukuran tebal kain yang sah dipakai untuk menutup aurat?
JAWAB : Shalat dengan menggunakan rukuh tersebut tidak sah. Adapun ukuran tebal tipisnya rukuh / kain yang sah untuk menutup aurat baik perempuan atau laki-laki ialah sekira kain itu sudah bisa menutupi warna kulit.

2. Bagaimana hokum menggunakan rukuh sambungan (pedotan)
JAWAB : Hukumnya sah, apabila selama shalat auratnya tidak terbuka. Hanya saja biasanya, rukuh sambungan itu, apabila digunakan untuk shalat, ketika digunakan mengangkat lengannya kelihatan, maka kalau demikian shalatnya tidak sah.

3. Aurat terbuka yang menyebabkan tidak sahnya shalat itu berapa lama ?
JAWAB : Terbukanya aurat dengan sengaja, walaupun hanya sebentar membatalkan shalat, tetapi bila tidak sengaja wajib menutup dengan segera. Adapun waktu yg dianggap lama adalah sekira membaca subhanallah.

4. Banyak orang awam yang shalatnya meninggalkan “thuma’ninah”, terutama thuma’ninahnya I’tidal. Bagaimana hukum shalat demikian ?
JAWAB : Apabila meninggalkan thuma’ninah itu dengan sengaja, maka batal shalatnya, apabila karena lupa wajib mengulangi rukun yg tidak thuma’ninah.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 8 September 2010 in Bahsul Masail

 

4 responses to “HAID DAN MASALAHNYA

  1. sulis

    22 Oktober 2010 at 12:39

    ini nambah pengetahuan q tapi q blm begitu paham_paham
    tapi dengan baca ini bisa ngerubah kesalahan- kesalahan q..

     
    • albaroni

      24 Oktober 2010 at 00:17

      silahkan bertanya kepada BU R. Nikmah (081335613800) kalau ada kurang faham masalah haid

       
  2. Alfi

    31 Oktober 2010 at 16:40

    Thnk bwt yg posting ini,,,,Sangat membantu…

     
  3. rizal

    1 Agustus 2012 at 22:08

    mantap sekali penjelsasannya, sangat membantu sekali untuk menerangkan kepada jema’ah

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: