RSS

Pintu 2: Tadzakkur

21 Sep

Oleh KH. Nasaruddin Umar

SETELAH melewati pintu tafakkur, seorang pencari Tuhan (salik) harus melewati pintu berikutnya, yaitu tadzakkur. Kalau tafakkur masih mengandalkan energi dan kekuatan pikiran. Tadzakkur sudah melewati akal pikiran (behid the mind). Tadzakkur berasal dari akar kata dzakara-yadzkuru berarti mengingat dan menghayati. Tadzakkur berarti upaya untuk mengalihkan berbagai gangguan pikiran dan perasaan dan berada pada puncak ketenangan batin. Tafakkur adalah suasana batin seseorang yang sampai pada kesadaran puncak bahwa Tuhan sudah begitu dekat dan tidak lagi berjarak dengan makhluknya. Tidak ada lagi subyek dan obyek. Berbeda dengan tafakkur yang masih menyadari dirinya sebagai makhluk dan Tuhan sebagai Sang Khaliq. Tadzakkur sudah sampai pada tauhid yang sejati.

Tauhid sejati bagi orang yang sudah sampai di maqam tadzakkur sudah menyadari dan menghayati keesaan zat (tauhid al-dzati). Selama manusia masih menyadari ada subyek dan ada obyek, atau adanya hamba dan Tuhan, maka belum dianggap menyadari tauhid al-dzati. Bahkan tadzakkur juga bisa mengantar manusia pada kesadaran keesaan perbuatan (tauhd al-afal) dan kesadaran sifat (tauhid al-shifat). Kesadaran akan tauhid al-afal dan tauhid al-shifat ketika seseorang sudah menyadari bahwa perbuatan dan sifat itu hanya satu yaitu perbuatan dan sifat Tuhan dalam arti lebih tinggi. Mirip dengan apa yang dikatakan Ibn Arabi sebagai ketunggalan wujud sejati (wahadat al-wujud). Dalam tahap ini seseorang sudah berhasil memecahkan kebuntuan dualitas Ilahi (duality of God). Zat, perbuatan, dan sifat hanya satu. Inilah makna hakiki: La Ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah). Namun demikian, tadzakkur tidak menurunkan Tuhan menjadi manusia atau menuhankan makhluk. Tadzakkur tidak menghilangkan fungsi dan kewajiban kehambaan. Justru jalan menuju ke tingkat tadzakkur tidak ada cara lain selain melakukan kesadaran syariah secara sempurna. Sulit membayangkan adanya tafakkur dan tadzakkur tanpa syariah yang perfect.

Tadzakkur tidak bisa didefinisikan dan tidak bisa diceritakan. Tadzakkur adalah pengalaman yang yang sangat pribadi. Pengalaman ini tidak bisa didekati dengan model atau kategori disiplin ilmu konvensional dan kontemporer, apalagi dengan ilmu fikih. Kekeliruan di masa lampau pernah terjadi karena pengalaman spirituan yang amat pribadi tetapi diadili (tahkim) dengan paradigma formal logik ilmu fikih. Akibatnya Al-Hallaj jadi korban dan dunia teosofi dan tasawuf mengalami kemandekan.

Tadzakkur salah satu lorong rahasia menuju Tuhan. Ekspresi dan pengalaman tadzakkur tentu tidak identik satu sama lain, namun secara prinsip memiliki kesamaan satu sama lainnya. Bahkan pengalaman tadzakkur bisa dijelaskan oleh agama-agama lain. Dunia spiritual seperti kegiatan tasawuf dan teosofi lebih bersifat perenialistik. Dalam dunia spiritua-sufistik sekat-sekat agama, budaya, dan bangsa sangat tipis. Karena itu, komunikasi tokoh-tokoh mistisisme lintas agama seringkali ditemukan.

Tadzakkur berbeda dengan meditasi meskipun dalam praktiknya memiliki keserupaan. Dalam dunia meditasi, tujuan utama yang diharapkan adalah ketenangan paripurna yang akan melahirkan kebahagiaan batin sejati. Memang hal itu dimungkinkan dicapai melalui meditasi. Meninggalkan stres, mengobati kekecewaan, dan menstabilkan emosi dapat dilakukan dengan meditasi. Namun tafakkur dan tadzakkur tujuannya bukan mencapai ketenangan atau menyembuhkan penyakit batin, tetapi lebih jauh dari itu, untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT. Dan pada saatnya seseorang mungkin akan sampai pada kesadaran spiritual bahwa manusia, makhluk, dan Tuhan sesungguhnya tidak bisa dipilah-pilah. Yang banyak itu ternyata hanya satu dan Yang Satu Itu menampilkan spektrum yang beraneka ragam.

*) Nasaruddin Umar, Pengurus PBNU

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 September 2010 in Kolom

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: