RSS

Memuliakan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW

09 Feb

Memuliakan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW
07/02/2011
Ketika memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam merayakan hari kelahiran Nabi SAW dengan berbagai cara, baik dengan cara yang sederhana maupun dengan cara yang cukup meriah. Pembacaan shalawat, barzanji dan pengajian­pengajian yang mengisahkan sejarah Nabi SAW menghiasi hari-hari bulan itu.

Sekitar lima abad yang lalu, pertanyaan seperti itu juga muncul. Dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi (849 H – 911 H) menjawab bahwa perayaan Maulid Nabi SAW boleh dilakukan. Sebagaimana dituturkan dalam Al-Hawi lil Fatawi:

“Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi SAW pada bulan Rabiul Awwal, bagaimana hukumnya menurut syara’. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab: Menurut saya bahwa asal perayaan Maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca Al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmnti bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah al-hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka dta dan kegembiraan atas kelahiran Nnbi Muhammad SAW yang mulia”. (Al-Hawi lil Fatawi, juz I, hal 251-252)

Jadi, sebetulnya hakikat perayaan Maulid Nabi SAW itu merupakan bentuk pengungkapan rasa senang dan syukur atas terutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia ini. Yang diwujudkan dengan cara mengumpulkan orang banyak. Lalu diisi dengan pengajian keimanan dan keislaman, mengkaji sejarah dan akhlaq Nabi SAW untuk diteladani. Pengungkapan rasa gembira itu memang dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan anugerah dari Tuhan. Sebagaimana firman Allah SWT :

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَحُوا

Katakanlah (Muhammad), sebab fadhal dan rahmat Allah (kepada kalian), maka bergembiralah kalian. (QS Yunus, 58)

Ayat ini, jelas-jelas menyuruh kita umat Islam untuk bergembira dengan adanya rahmat Allah SWT. Sementara Nabi Muhammad SAW adalah rahmat atau anugerah Tuhan kepada manusia yang tiadataranya. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. al-Anbiya’,107)

Sesunggunya, perayaan maulid itu sudah ada dan telah lama dilakukan oleh umat Islam. Benihnya sudah ditanam sendiri oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عَنْ أبِي قَتَادَةَ الأنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ – صحيح مسلم

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Senin. Maka beliau menjawab, “Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (HR Muslim)

Betapa Rasulullah SAW begitu memuliakan hari kelahirannya. Beliau bersyukur kepada Allah SWT pada hari tersebut atas karunia Tuhan yang telah menyebabkan keberadaannya. Rasa syukur itu beliau ungkapkan dengan bentuk puasa.

Paparan ini menyiratkan bahwa merayakan kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW termasuk sesuatu yang boleh dilakukan. Apalagi perayaan maulid itu isinya adalah bacaan shalawat, baik Barzanji atau Diba’, sedekah dengan beraneka makanan, pengajian agama dan sebagainya, yang merupakan amalan-amalan yang memang dianjurkan oleh Syari’ at Islam. Sayyid Muhammad’ Alawi al-Maliki mengatakan:

“Pada pokoknya, berkumpul untuk mengadakan Maulid Nabi merupakan sesuatu yang sudah lumrah terjadi. Tapi hal itu termasuk kebiasaan yang baik yang mengandung banyak kegunaan dan manfaat yang (akhirnya) kembali kepada umat sendiri dengan beberapa keutamaan (di dalamnya). Sebab, kebiasaan seperti itu memang dianjurkan oleh syara’ secara parsial (bagian­bagiannya)”

“Sesungguhnya perkumpulan ini merupakan sarana yang baik untuk berdakwah. Sekaligus merupakan kesempatan emas yang seharusnya tidak boleh punah. Bahkan menjadi kewajiban para da’i dan ulama untuk mengingatkan umat kepada akhlaq, sopan santun, keadaan sehari-hari, sejarah, tata cara bergaul dan ibadah Nabi Muhammad SAW. Dan hendaknya mereka menasehati dan memberikan petunjuk untuk selalu melakukan kebaikan dan keberuntungan. Dan memperingatkan umat akan datangnya bala’ (ujian), bid’ah, kejahatan dan berbagai fitnah”. (Mafahim Yajib an Tushahhah, 224-226)

Hal ini diakui oleh Ibn Taimiyyah. Ibn Taimiyyah berkata, “Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAWakan diberi pahala. Begitulah yang dilakukan oleh sebagian orang. Hal mana juga di temukan di kalangan Nasrani yang memperingati kelahiran Isa AS. Dalam Islam juga dilakukan oleh kaum muslimin sebagai rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. Dan Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bid’ah yang mereka lakukan”. (Manhaj as-Salaf li Fahmin Nushush Bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 399)

Maka sudah sewajarnya kalau umat Islam merayakan Maulid Nabi SAW sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan juga karena isi perbuatan tersebut secara satu persatu, yakni membaca shalawat, mengkaji sejarah Nabi SAW, sedekah, dan lain sebagainya merupakan amalan yang memang dianjurkan dalam syari’at Islam.

KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Rais Syuriyah PCNU Jember

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2011 in Bahsul Masail

 

4 responses to “Memuliakan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW

  1. Erwin Hariyanto

    16 Februari 2011 at 18:07

    salam kenal untuk semuanya, kunjungi
    http://fekampuspanda.wordpress.com
    untuk belajar ilmu ekonomi

     
  2. rifaa'i ibnu abdulwahab

    12 September 2011 at 09:55

    bismillah, ikhwatalislam……….
    nabi saw. bersabda: “……..semua bid’ah itu sesat”
    rosulullah saw. juga bersabda: “barang siapa yang mengamalkan suatu amalan bukan atas tuntunan kami, maka ia (amalan itu) tertolak”.
    – mana dalil yg memerintahkan maulid nabi?
    – apa itu barzanji? apakah ada dizaman nabi saw.?
    – apakah prkataan ibnu taimiyah ini benar?Hal ini diakui oleh Ibn Taimiyyah. Ibn Taimiyyah berkata, “Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAWakan diberi pahala. Begitulah yang dilakukan oleh sebagian orang. Hal mana juga di temukan di kalangan Nasrani yang
    memperingati kelahiran Isa AS. Dalam Islam juga dilakukan oleh kaum muslimin sebagai rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. Dan Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bid’ah yang mereka lakukan”. (Manhaj as-Salaf li Fahmin Nushush Bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 399)
    – bukankah kita dilarang menyerupai orang2 nashroni? bahkan kita diperintahkan untk menyelisihinya !
    JANGAN KITA ANGGAP INI SEBAGAI PERDEBATN, KITA ANGGAP SEBAGAI TUKAR PIKIRAN UNTUK MENCARI MANA YANG MENDEKATI KEBENARAN. KARNA KEBENARAN MUTLAK MILIK ALLAH SWT.

     
    • Musthofa

      20 Februari 2012 at 13:23

      saya tanya kembali:
      Mana dalil yang terang2an melarang dilaksanakan peringatan Maulid?
      tolong carikan dalil itu. baik al quran maupun hadits.

      Yang dimaksud ”Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu (amalan) dalam urusan (agama) kami yang bukan dari kami, maka (amalan) itu tertolak.” (HR. Bukhori dan Muslim). adalah amalan yang esensinya tidak pernah Rasulullah ajarkan maupun contohkan.
      contohnya:
      Sholat tidak menghadap kiblat,
      Sholat tidak mengenakan pakean
      Puasa romadhon makan sahurnya setelah matahari terbit, atau buka puasa sebelum matahari terbenam,
      Melaksanakan sholat subuh sebanyak 3 rokaat.
      Melaksanakan ibadah Haji di masji al aqsho
      Menikahi adik kandungnya sendiri
      Berwudlu dengan membasuh kaki terlebih dahulu
      dl.
      ini yg dimaksud dari amalan yg tertolak bung…!

      soal Maulid Nabi.

      Kenapa ada orang yang antipati dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad saw?

      Kaum yang pertama kali taruma dengan adanya peringatan Maulid Nabi Muhammad saw adalah kaum SALIBI.
      Mereka sangat takut jika ada perayaan maulid dilaksanakan. Kenapa? karena sejarah telah membuktikan kalau perayaan maulid dapat membangkitkan semangat juang umat Islam dan mempertebal kecintaan umat kepada Nabi. Seperti yg telah dilaksanakan oleh Sultan Sholahuddin Al Ayyubi saat beliau menghadapi serangan tentara salib Eropa, yakni dari Prancis, Jerman, dan Inggris.Setelah Peringatan Maulid dilaksanakan Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) kekuatan kaum salibi yg begitu dasyat dapat dihancurkan. Yerusalem dapat direbut kembali oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali yg sebelumnya Pada tahun 1099 M tentara salib berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja.

      Wahai Umat Islam, jangan tergelincir oleh pemikiran kaum salibi dan kaum yahudi yg dengan kelihaian pikiriannya ingin membekukan peringatan maulid sebagai perbuatan bidáh yang sesat. Padahal mereka takut terhadap kekuatan yang timbul dari adanya peringatan maulid.
      lihat sejarah awal maulid: http://my.opera.com/74ya/blog/awal-perayaan-maulid

       
  3. muhammad 'amrunovic

    3 Maret 2012 at 23:28

    sip sip sip………. mari tingkatkan mauludan………….!!!!!!
    allohumma sholli ‘alaa sayyidina muhammad.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: